Sri Dwi Murwaningsih
Sederhana
menurut saya sesuatu yang nyandhak di
pikiran kita, yang nyambung, yang kita tahu apa dan bisa menjelaskannya. Sederhana
menurut pemikiran kita. Sederhana bagus untuk memulai menulis bagi seorang
pemula, apalagi yang mulai dari nol.
Dalam
bayangan orang yang belum pernah menulis, tulisan itu harus “wow”, cetar
seperti yang dihasilkan oleh penulis-penulis terkenal. Kadang kita tidak pernah
berpikir bahwa mereka berproses dari awal juga. Tentu hasil tulisan mereka
belum sekeren yang dilihat sekarang. Walau ada juga penulis yang sekali mulai
menulis langsung booming.
Bila
membayangkan tulisan yang tinggi di awan, tentu kita akan takut memulainya. Dan
saat tak memulai, kapan kita akan bisa. Takut akan bayang-bayang hanya akan
menghambat kreatifitas kita. Menghentikan gerak kita. Menyumbat ide-ide kita.
Mulai
dari yang sederhana kita goreskan pena. Mulai dari bahan yang kita
menguasainya. Mulai dari topik yang kita bisa menjelaskannya. Mulai dari
kalimat yang kita familiar bahasanya.
Mulai dari bercerita tentang pikiran kita, perasaan kita, dan keinginan kita.
Takut
diledek? Takut dicemooh? Takut dicibir?takut dikritik? Takut tidak dianggap? So what gitu lho….apanya yang salah? Kita mengungkapkan pikiran dan perasaan kita. Memulai
dari awal. Apabila ada kekurangan di sana-sini tentulah wajar. Tak perlu takut.
Ingat, perjalanan yang jauh sekalipun dimulai dari satu langkah awal. Bukankah
tidak mungkin apabila kita berjalan dimulai dengan lompatan yang jauh. Kondisi
seperti itu akan membuat kita mudah jatuh.
Saya
suka dengan tiga tips dari ulama
kondang Aam Gim. Untuk menjadi manusia yang lebih baik ada tiga hal yang perlu perhatikan.
Ada tiga M: mulai dari yang kecil, mulai dari yang sederhana, mulai dari
sekarang. Segala sesuatu yang bersifat mengubah menjadi lebih baik tidak perlu
muluk-muluk. Cukup mulai dari yang sederhana yang kita bisa menyampaikannya,
dan menguasainya.
Keberhasilan
selalu dilewati dengan proses. Proses pembelajaran yang kita harus
mengalaminya. Pembelajaran nyata. Pembelajaran yang kita ikut di dalamnya.
Menuju lebih baik, apabila kita bertahap mengambil pengalaman dan makna di
dalamnya. Trial and error, coba-coba
gagal, coba lagi, dan lagi.
Menurut
saya dalam dunia tulis menulis tidak ada istilah gagal. Tidak ada yang bisa
menyalahkan. Bukankah tulisan itu hasil ide kreatif seseorang yang diwujudkan
dalam rangkaian kalimat yang bisa dipahami orang lain? Tiada sesuatu yang baru
dimulai langsung menjadi sempurna. Ada tahapan yang harus dilalui.
Tak
perlu takut untuk mulai menulis. Tak perlu bingung sekarang untuk mencari ide.
Tak perlu gundah akan mentog di tengah jalan. Cukup tuliskan apa yang kita
pikirkan, apa yang kita alami, apa yang kita rasakan, dan apa yang kita mau.
Proses yang akan membuat tulisan kita menjadi lebih baik.
Jangan
takut untuk menyebarkan tulisan kita. Semakin banyak dibaca, semakin tambah
orang yang bisa mengetahui kelemahan tulisan kita. Tak perlu apriori terhadap saran,
kritikan, dan masukan dari orang lain. Kita harus senang dan berterimakasih
kepada orang itu. Dengan memberi saran, kritik, dan masukan berarti orang
tersebut membaca dan memperhatikan tulisan kita. Hal-hal seperti itu yang bisa
mendewasakan kita dalam menulis.
Bila
tak memulai kapan kita bisa memperbaiki? Bila tak menuliskan kapan kita bisa
mengingat? Bila tak mencontohkan kapan kita bisa menasehati? Tulisan adalah
warisan buat anak cucu kita. Mereka bisa mengetahui pemikiran, ide, pengalaman,
cerita dari tulisan kita. Jadi mulailah menulis dari sekarang. Mulailah menulis
dari yang kecil-kecil yang kita alami. Mulailah menulis dari yang paling
sederhana sekalipun. Ingat sederhana itu bukan DOSA!! Jadi masih takutkah kita
menulis?
Terima kasih Sobat. Sangat menginspirasi. Jelek bukanlah hina. Sederhana bukanlah dosa. Yess!
BalasHapusSangat menginspirasi bagi saya untuk belajar menulis.
BalasHapus